Cari Blog Ini

Rabu, 18 Agustus 2010

Arty Ardilla, Siswi SMAN 1 Bengkalis Pembawa Baki Paskibraka

SUMBER: http://www.riaupos.com/new/berita.php?act=full&id=3235&kat=1
18 Agustus 2010


JAKARTA (RP) - Kemarin, kebanggaan melingkupi masyarakat Kabupaten Bengkalis khususnya dan Provinsi Riau umumnya.
  Salah seorang dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang bertugas mengibarkan bendera pusaka pada Upacara Detik-detik Proklamasi di Istana Merdeka adalah Arty Adilla, salah seorang siswi SMAN 1 Bengkalis.

WISNELY, sejak Selasa (17/8) subuh terus duduk di depan televisi untuk melihat berita-berita tentang Arty Ardilla, sang anak, sebagai pembawa baki bendera pusaka. Untaian air mata pun tak lepas dari pelupuk matanya. Tangis haru, bangga melingkupi keluarga sederhana itu. Yang membanggakan lagi, Arty tak hanya tergabung dalam Paskibraka nasional, namun dia menjadi sorotan mata karena dialah yang dipercaya membawa baki menerima bendera pusaka dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk dikibarkan pada upacara yang disiarkan langsung seluruh televisi nasional ke seluruh nusantara itu.

Bupati Bengkalis, H Herliyan Saleh, usai upacara di Lapangan Tugu Bengkalis menyatakan kebanggaannya pada Arty yang secara tidak langsung telah membawa nama harum bagi Bengkalis. Dilihat dari prestasi dan kesehariannya, Arty memang layak menjadi duta Riau masuk dalam anggota Paskibarka 2010. Berbagai prestasi telah diraih. Tak hanya menjadi siswa teladan di SMAN 1 Bengkalis, putri pasangan Wisnelly (49) dan Syahril (almarhum) belum lama ini juga dipercaya mengikuti pertukaran pelajar ke Jepang. Kemampuan berbahasa Inggrisnya tak diragukan lagi. Berbagai kejuaraan khususnya dalam bahasa Inggris diraihnya. Penguasaan bahasa Inggris ini juga yang menjadi salah satu alasan ia dipercaya mengikuti pertukaran pelajar Indonesia-Jepang.

Belum lama ini, gadis periang dan mudah bergaul ini juga menjadi juara bujang dan dara tingkat Kabupaten Bengkalis dan menduduki posisi runner-up pemilihan bujang dan dara Provinsi Riau serta menjadi duta Riau untuk ke tingkat nasional. Hanya nasib baik belum berpihak kepadanya ketika berlomba di tingkat nasional, Arty tidak mendapat juara.

Sebagaimana perempuan seusia dia, Arty suka bergaul tanpa memilih-milih teman. Aktif di berbagai kegiatan, banyak mendulang prestasi, mayoret marching band Andam Dewi Bengkalis tak membuat Arty sombong. Kesederhanaan ekonomi keluarga juga tak membuat gadis kelahiran 2 Januari 1993 ini rendah diri. Dia tetap ceria dan bergaul dengan semua kalangan tanpa rasa rendah diri. Bahkan dia sering terlihat ikut membantu sang ibu berjualan kue tanpa rasa malu sedikit pun.

Menurut Wisnelly, anak ke-3 dari lima bersaudara ini adalah sosok yang periang dan sangat sayang serta perhatian sama orangtua. Kendati pergaulannya luas, namun Arty tak malu dengan kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan. ‘’Dia sangat sayang dan perhatian dengan orang tua. Dia juga punya keinginan untuk maju. Semua kegiatan yang dilakukannya itu atas dorongan semangat dia sendiri. Arty hanya minta restu saja dari saya selaku orang tua. Saya tak mau menghalangi keinginan dia sepanjang itu baik buat dirinya,’’ kata Wisnelly yang dihubungi via ponsel dan sedang berada di Siak.

Arty: Terima Kasih Umi
Bagi Arty, menjadi pembawa baki dan berhadapan langsung dengan presiden itu adalah hal yang sangat mengejutkan. ‘’Terima kasih, terima kasih semuanya,’’ kata Arty ketika ditemui JPNN usai mengikuti upacara penurunan bendera di Istana Negara. Matanya berkaca-kaca. ‘’Doakan Arty biar sukses ya...’’ pinta Arty seperti tak kuat menahan air matanya.

Dia mengaku senang, bahagia bercampur-aduk. ‘’Sulit untuk menceritakan sekarang,’’ ujarnya.

Arty mengaku senang karena sukses menjalankan tugas sebagai anggota Paskibraka. Ia mengaku bangga karena mewakili daerahnya di ajang yang sangat penting itu. ‘’Saya benar-benar bersyukur karena sukses menjalankan tugas ini. Terima kasih ya Allah, terima kasih Umi. Terima kasih semuanya,’’ lagi-lagi Arty mengucap syukur. Siswi kelas 3 IPA itu tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Allah. Ia tak kuasa menahan haru, dan sesekali menahan senyum menyembunyikan kebanggaannya. ‘’Di sini semuanya mendadak, jadi membuat saya serba terkejut,’’ ujarnya.


Sungguh di luar dugaan jika kemudian Arty yang terpilih sebagai pembawa baki bendera pusaka. Bahkan, dia mengaku sempat terkejut ketika Pangdam Jaya Mayjen Marciano Norman mengumumkan bahwa dirinya yang akan membawa baki bendera pusaka. ‘’Terus terang saya terkejut, karena semua itu baru diumumkan pukul 07.00, beberapa jam sebelum upacara detik-detik proklamasi,’’ kata Arty membuka cerita.

Tentu, segalanya sudah dipersiapkan. Karena regu Paskibraka sudah menjalani latihan keras secara terus-menerus. ‘’Tentu saja kami semua sudah siap untuk mendapatkan tugas apa pun karena kami memang sudah menjalani latihan khusus. Cuma, ketika diumumkan, saya tidak sempat meminta doa restu kepada ibu di rumah. Kami tidak siap berkomunikasi, sekalipun melalui telepon,’’ ujarnya.

Bersyukurlah Arty, beberapa saat sebelum menjalankan tugas beratnya dia diwawancarai sebuah televisi. Kesempatan itu pula yang dia pergunakan untuk meminta doa restu kepada ibunya. ‘’Sekarang saya sudah lega, telah menjalankan tugas dengan baik,’’ katanya. Arty mengaku, upacara Detik-detik Proklamasi telah membuatnya haru dan bangga terhadap kebesaran bangsa ini. ‘’Dentuman meriam tadi bikin saya sangat haru. Sempat gugup waktu ambil bendera, tapi syukur semuanya menjalan lancar,’’ ujarnya.

Membawa baki dalam pasukan Paskibraka memiliki kebanggaan tersendiri baginya karena dengan membawa baki bendera itu, Arty bisa berhadapan langsung dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang kala itu bertindak sebagai inspektur upacara. Ia pula yang menerima duplikat bendera pusaka untuk dikibarkan pada upacara detik-detik proklamasi yang diselenggarakan setiap tanggal 17 Agustus tersebut. ‘’Sungguh ini merupakan kesempatan yang tidak pernah saya duga sebelumnya,’’ Arty menegaskan.

Ujian berat itu kini telah diselesaikan dengan baik oleh Arty. Apalagi, proses seleksi menjadi anggota Paskibraka itu bukan seperti meniup sebuah lilin. Tetapi, semua peserta diseleksi di sekolah, kabupaten, lalu provinsi. Setelah dikarantina sekitar tiga pekan di Cibubur, Jakarta Timur, sebanyak 66 siswa terbaik utusan dari seluruh Indonesia itu digembleng oleh para purna-Parkibraka dan petugas.

Wisnely memang tak mendampingi Arty ke Jakarta, karena tak bisa meninggalkan usahanya berjualan. Arty hanya ditemani oleh sanak-saudaranya yang berada di Jakarta. Kendati demikian, kata Wisnely, setiap ada kesempatan, Arty selalu menelpon dia. ‘’Kemarin dia menelpon saya sebentar, walau sebenarnya tidak boleh, namun dia minta waktu kepada pembinanya untuk menelpon saya, hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya. Dia anaknya memang perhatian dan sayang sama orang tua,’’ ujar Wisnely sambil terisak bahagia.

Wisnely sedikit pun tidak pernah membayangkan jika anaknya bisa menjadi pembawa baki bendera pusaka dan tergabung dalam Paskibraka nasional mengikuti peringatan HUT RI yang dihadiri presiden.

‘’Tak menyangka saya, dia bisa berhadapan langsung dengan Presiden SBY menerima bendera pusaka. Saya sejak Subuh tak henti-hentinya menangis bahagia membayangkan Arty di Jakarta menjalankan tugasnya dalam Paskibraka itu. Keberhasilan yang dicapainya itu karena semangatnya yang tinggi untuk maju,’’ ujarnya.

Kebahagian tak terkira juga melingkupi seluruh jajaran SMAN 1 Bengkalis. Arty telah membawa nama harum sekolah terbaik di Bengkalis tersebut. Kegembiraannya itu diungkapkan Kepala Sekolah SMAN 1 Bengkalis, Yahya Gulita, bahwa tak ada kata yang dapat diucap untuk mengungkapkan kebahagiaan dan kebanggaan atas adanya siswi SMAN 1 Bengkalis mewakili Riau sebagai pasukan pengibar bendera pusaka di Isnana Merdeka Jakarta. ‘’Sepulangnya Arty nanti, kami akan berikan penghargaan untuk dia, sebagai motivasi bagi siswa yang lain untuk meraih prestasi sebagaimana yang sudah dicapai oleh Arty. Anaknya selain pintar, juga orang ceria dan luwes, aktif di berbagai kegiatan. Bahasa Inggrisnya bagus. Dia juga menjadi duta pertukaran pelajar Indonesia-Jepang belum lama ini,’’ kata Yahya.

Warga Bengkalis sendiri juga sangat bangga dengan apa yang diraih oleh Arty. Bahkan masyarakat mengusulkan kepada Pemkab Bengkalis agar memberikan pendidikan gratis untuk Arty ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, karena apa yang diraih Arty sangat membanggakan dan mengharumkan nama daerah.

‘’Ini agak langka, harusnya Pemkab Bengkalis memberikan penghargaan kepada Arty dalam bentuk membiayai pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi. Apalagi dia juga dari keluarga sederhana, namun banyak prestasi,’’ ujar Wan Yulinizami alias Jakek, warga Bengkalis.

Prestasi Anak Riau
Selain Arty, yang berkesempatan menjadi anggota Paskibraka dari Riau adalah Muhammad Aulia. Pelajar kelas 2 SMA Cendana Rumbai Pekanbaru ini berada pada pasukan 17 pada saat penurunan bendera merah putih. ‘’Yang jelas saya sangat bangga bisa sampai ke sini, karena sebelum menjadi anggota Paskibraka di tingkat nasional, kita harus mengikuti proses seleksi yang sangat ketat,’’ ujar Aulia yang pada kesempatan itu didamping oleh kedua orang tuanya, H Nurzahedi Tanjung SE dan Hj Sapta Juwita SH MM.

Untuk bisa menjadi anggota Paskibraka di tingkat nasional, menurut kedua putra dan putri terbaik yang dimiliki Riau ini tidak lain adalah disiplin, kerja keras, semangat serta kemauan yang tinggi. ‘’Atas dasar itulah kami bisa mencapainya. Semoga pada upacara Proklamasi Kemerdekaan RI 2011 mendatang, pembawa baki bendera merah putih itu dipercayakan kembali kepada pelajar asal Riau,’’ kata Arty dan Aulia.

Berdasarkan sumber Riau Pos, keberhasilan wakil Riau masuk dalam tim delapan dalam pengibaran bendera di istana negara pernah terjadi pada tahun 1990 atas nama Wahyudi. Pada saat tersebut, Wahyudi bertugas sebagai pengerek bendera, sementara pembawa bendera pusaka dilakukan Danti Suharto, cucu dari Presiden RI Soeharto saat itu.(evi/yud/bud)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar